Written by sofieyya on Sep 27th, 2009 | Filed under:
Sejarah Dunia
Masyarakat Turki memberikan penghormatan terakhir mereka pada hari Sabtu lalu (26/9) kepada pangeran terakhir yang lahir di Istana dari dinasti Utsmani yang juga merupakan cucu dari Khalifah terakhir Sultan Abdulhamid II – di sebuah pemakaman di Istanbul, yang turut dihadiri oleh para menteri pemerintahan Turki.
Ratusan orang memenuhi halaman Masjid Biru di pusat sejarah kota terbesar di Turki dan berbaris memberikan penghormatan terakhir terhadap jenazah Osman Ertugrul Osmanoglu Effendi yang ada di dalam peti mati, yang terbungkus dalam bendera Turki.
Tiga menteri menghadiri pemakaman Osman Ertugrul Osmanoglu Effendi, yang datuknya Sultan Abdulhamit II merupakan Sultan ke Khalifahan Utsmaniyah terakhir yang memerintah dengan kekuasaan mutlak.
Osman Ertugrul Osmanoglu Effendi, yang dijuluki “The Last Ottoman” oleh media Turki, meninggal di sebuah rumah sakit Istanbul akibat sakit gagal ginjal pada hari Rabu yang lalu pada usia 97.
Perdana Menteri Tayyip Erdogan memberikan kewarganegaraan Turki kepada Osman Ertugrul pada tahun 2004.
Osman Ertugrul, lahir pada tahun 1912 di sebuah istana Istanbul, dan anggota keluarganya dibuang ketika Kekhalifahan Utsmaniyyah runtuh dan digantikan oleh Republik Turki pada tahun 1923.
Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Amerika Serikat dan datang ke Turki pada tahun 1992 di bawah amnesti.
Doa pemakaman bagi dirinya dilakukan di Masjid Biru.
Sumber:-Eramuslim
Written by sofieyya on Sep 24th, 2009 | Filed under:
Sejarah Dunia

Kesatuan keamanan kota Ismailiyah, Mesir, menangkap HA (35) seorang guru (ustaz) bahasa Arab di desa Sarabium, Ismailiyah, kerana diduga melakukan ajakan massal untuk menyembah api, juga menebarkan keraguan atas agama Islam dan Rasulullah. Demikian dilaporkan akhbar Mesir al-Yaum as-Sabi (22/9).
Pihak keamanan kota Ismailiyah sebelumnya telah menerima beberapa pengaduan dari penduduk desa yang merasa resah oleh keberadaan dan ajaran aneh HA. Dalam pengaduannya, masyarakat menyatakan jika HA mengajak untuk keluar dari Islam, menebarkan keraguan akan Islam, Al-Qur’an, dan Rasulullah, serta mengajak untuk menyembah api.
HA tidak sekedar menyebarkan ajaran anehnya itu kepada anak-anak didiknya yang masih di bawah umur, tetapi juga kepada masyarakat sekitar dengan menyebarkan pamplet-pamplet dan semi buletin yang berisi ajaran-ajarannya.
Beruntung, tak ada satu siswa dan warga pun yang mengikuti HA, mengakuinya saja pun tidak. Hingga akhirnya, beberapa hari yang lalu, kesatuan keamanan kota Ismailiyah mengepung rumah HA dan menangkapnya.
Kasus munculnya “ajaran aneh” dan “Nabi baru” sebagaimana yang sering mencuat di Indonesia terbilang sangat minimum dan sedikit sekali terjadi di Mesir. Dalam masyarakat Mesir, kontrol keagamaan, utamanya dari Al-Azhar, terhitung masih kuat, di samping kesadaran dan kapasiti pemahaman keagamaan masyarakatnya yang tercatat ‘lumayan’ baik. (L2/ys)
Sumber:-http://www.eramuslim.com/